Thursday, October 8, 2009
Nikmat Allah terselip di kegiatan Peduli Dhuafa...
Pekerjaan yang mudah, tapi harus extra sabar, karena saya dan kawan-kawan mengerjakan pada kondisi shaum. Setelah dzuhur, kami berjibaku dengan dus2, plastik, dan lain-lain untuk menghasilkan paket-paket itu. Stress melanda ketika permintaan distributor banyak, sedang jumlah paket tidak memenuhi quota permintaan. Tapi alhamdulillah,pada akhir menjelang syawal, akhirnya semua bisa terpenuhi, bahkan berlebih dalam hal dana.
"Kerepotan" menjalani kegiatan ini membuat saya menjadi berpikir tentang kemurahan Allah. Saya hanya menganalogikan dengan sederhana, komponen-komponen yang saya temui dalam kegiatan tersebut. Jika, dhuafa diumpamakan sebagai manusia-manusia yang akan diberi rizki, jumlah permintaan paket adalah doa-doa yang diminta manusia, sedang saya dan teman-teman sebagai penerima doa dan yang memberi rizki.
Luar Biasa, dalam perumpamaan manusia yang lemah dan terbatas ini, sungguh tidak akan sanggup. Begitu tidak terbatasnya Allah, yang selalu mendengarkan doa-doa kita, memberikan kita rizki yang tidak terputus, tidak pernah lelah dan bosan menghadapi makhluk-Nya. Bahkan ketika kita semakin mendekat pada-Nya, Dia lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. SUBHANALLAH, ALHAMDULILLAH, ALLAHU AKBAR.
Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Thursday, August 6, 2009
9 Dampak Makanan dan Harta Haram
- Tidak Diterima Amalanter
Rasulullah saw bersabda, " Ketahuilah, bahwa suapan haram jika masuk ke dalam perut salah satu dari kalian, maka amalannya tidak di diterima selama 40 hari" (HR At-Thabrani).
- Tidak Terkabul Doa
Sa'ad bin Abi Waqash bertanya kepada Rasulullan saw, "Ya Rasulullah, doakan saya kepada Allah agar doa saya terkabul." Rasulullah menjawab, "Wahai Sa'ad, perbaikilan makananmu, maka doamu akan terkabulkan." (HR At-Thabrani). Disebutkan juga dalam hadits lain ba'hwa Rasulullah saw bersabda, " Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, mukanya berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan, "Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!". Padahal makanannya haram dan mulutnya disuapkan dengan yang haram, maka bagaimanakah akan diterima doa itu?" (HR Muslim).
- Mengikis Keimanan Pelakunya
Rasulullah saw bersabda. " Tidaklah peminum khamr, ketika ia meminum khamr termasuk seorang mukmin." (HR Bukhari Muslim).
- Mencampakkan Pelakunya ke Neraka
Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram, kecuali neraka lebih utama untuknyua." (HR At Tirmidzi).
- Mengeraskan Hati
Imam Ahmad ra pernah ditanya, apa yang harus dilakukan, agar hati mudah menerima kesabaran, maka beliau menjawab. " Dengan memakan makanan halal." (Thabaqat Al Hanabilah : 1/219).
At Tustari, seorang mufassir juga mengatakan, "Barang siapa ingin disingkapkan tanda-tanda orang yang jujur (shiddiqun), hendaknya tidak makan, kecuali yang halal dan mengamalkan sunnah," (Ar RIsalah Al Mustarsyidin : hal 216).
- Haji dari Harta Haram Tertolak
Rasulullah saw bersabda, "Jika seorang keluar untuk melakukan haji dengan nafaqah haram, kemudian ia mengendarai tunggangan dan mengatakan, "Labbaik, Allahumma labbaik!" Maka, yang berada di langit menyeru," Tidak labbaik dan kau tidak memperoleh kebahagiaan! Bekalmu haram, kendaraanmu haram dan hajimu mendatangkan dosa dan tidak diterima." (HR At Thabrani)
- Sedekahnya ditolak
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mengumpulkan harta haram,kemudian menyedekahkannya, maka tidak ada pahalal, dan dosa untuknya." (HR Ibnu Huzaimah)
- Shalatnya tidak diterima
Dalam kitab Sya'bul Imam disebutkan, " Barangsiapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham di antaranya uang haram, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama pakaian itu dikenakan." (HR Ahmad)
- Silaturrahminya sia-sia
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mendapatkan harta dari dosa, lalu ia dengannya bersilaturahim (menyambung persaudaraan) atau bersedeka, atau membelanjakan (infaq) di jalan Allah, maka Allah menghimpun seluruhnya itu, kemudian Dia melemparkannya ke dalam neraka. Lalu Rasulullah saw bersabda, " Sebaik-baiknya agamamu adalah al-wara' (berhati-hati)." (HR Abu Daud)
